Warlock of Jambi

nah ini bagian yang menurut gw punya nilai patriotik tinggi. pada sub Bab yg lalu, sejarah kerajaan Melayu masih dipenuhi motif dagang, invasi, subversi bahkan konflik silsilah. Tapi, memasuki awal abad 20, tanah Jambi adalah Killing ground dimana terjadi mobilisasi militer Eropa secara massif yang ingin mem-bastardized kaum melayu dibawah sepatu larsnya dengan meriam dan pedang. begini tragedinya:


Dari tahun 1615 sampai tahun 1904 Jambi merupakan kerajaan yang dipimpin oleh seorang raja bergelar Sultan diawali ketika Pangeran Kedah diangkat sebagai Sultan yang pertama dengan gelar Sultan Abdul Kahar. Pada masa ini kapal Belanda Wapen van Amsterdam dibawah Pimpinan Ambraham Streck datang ke Jambi dan tahun 1616 berdirilah Loji perdagangan Belanda di Muaro Kumpeh. Pengaruh VOC (kemudian disebut kompeni) melebar dari lingkup berdagang hingga memonopoli komoditas dan akhirnya masuk dalam percaturan politik.

Pada masa pemerintahan Sultan Muhammad Fachruddin , dilakukan ofensif terhadap Belanda di Rawas, namun akhirnya terkepung oleh pasukan Letnan Kolonel Michiels. Michiels memaksa Sultan menandatangani perjanjian Korte Verklaring pada tanggal 14 November 1833 di Sungai Baung (Rawas Sumatera Selatan) yang Berisi: Kerajaan Jambi berada dalam pengaruh dan perlindungan Netherland. Kemudian Belanda berhak menempatkan personilnya di tempat-tempat yang dirasa penting dan strategis.

Pada akhir tahun itu juga Muara Kumpeh diduduki oleh Belanda. Perjanjian itu dissempurnakan oleh Residen Palembang Proetorius dalam bentuk Traktaat pada tanggal 15 Desember 1834 bahwa Kerajaan Jambi termasuk wilayah Nederlansch Indie. Perjanjian tersebut disahkan oleh Parlemen Belanda pada tanggal 21 April 1835.

Putra Sultan Muhammad Fachruddin, Ratu Jaya Ningrat yang menggantikan ayahnya dengan gelar Sultan Taha Syaifuddin pada usia 39 tahun, pada tahun 1856 langsung membatalkan secara spontan segala perjanjian unilateral yang diadakan Belanda dengan Kerajaan Jambi tidak bersedia tidak mengakui kedaulatan pemerintahan Nederlansch Indie di Jambi. Ini dibunyikan dalam naskah Belanda yang diterjemahkan berikut:

“bahwa Sultan Taha Saifuddin pada tahun 1856 menyatakan sikap permusuhan terang-terangan, terbuka, tanpa ragu-ragu terhadap  Nederlandsche-Gouverdement. Dia menaiki tahta kerajaan menggantikan pamannya Sultan Abdurrahman Nazaruddin yang wafat pada tahun 1855. bahwa Sultan Taha Saifuddin membatalkan seluruh perjanjian (Traktaat) yang dibuat oleh ayahnya Sultan Muhammad Fachruddin pada tahun 1834 dengan pemerintah Belanda.

Manuver Sultan Taha menimbulkan kegusaran dikalangan Belanda yang berpusat di Palembang. Sultan Taha juga berhasil memperoleh senjata dengan sistem imbal beli komoditi seperti emas, hasil hutan dan lain-lainnya dengan Inggris dan Amerika. Arsenal tersebut masuk ke Jambi melalui Kuala Tungkal, Siak, Indragiri, Bengkulu, sedangkan mesiu dibuat sendiri.

Belanda sengaja menunda agresi dengan mengutus Residen Palembang Couperus dan Asisten Residen Strom van Gravensande ke Jambi untuk berunding, sementara Belanda men-deploy bala tentara berkekuatan 30 kapal perang dan 800 tentara dengan persenjataan berat ke Muara Kumpeh dipimpin Mayor Van Langen pada akhir Agustus 1858. Perundingan tersebut gagal dan tak menghasilkan apa-apa, Mungkin karena Sultan Taha melihat substansi tawaran Belanda adalah lelucon, sehingga Belanda memberi ultimatum yang berbunyi:

  1. Tentara Belanda akan dikirim ke Jambi
  2. Sultan Taha diberi kesempatan berpikir selama 2 x 24 jam untuk menyusun perjanjian baru.
  3. Jika Sultan Taha tidak menyetujui diadakan perjanjian baru itu maka baginda akan diturunkan dari tahta kerajaan dan akan diganti dengan Sultan yang bersedia membuat perjanjian baru.
  4. Jika Sultan Taha tidak menyetujui diadakan perjanjian baru,  akan diasingkan ke Batavia.
  5. Sultan diwajibkan mengirimkan utusan ke Batavia untuk menghormati Gubernur Jenderal.

Pada tanggal 25 September 1858 armada VOC bergerak menyerbu Jambi. Dilain pihak Sultan Taha juga memiliki kapal-kapal perang, namun armada itu sengaja ditarik ke Muara Tembesi untuk skenario pertempuran jangka panjang dipedalaman, karena dianggap wilayah pedalaman adalah garis demarkasi terakhir, dan membiarkan Belanda memubazirkan Salvo Artilerinya di Jambi. Strategi ini belakangan dianggap berhasil, karena tentara Belanda baru dapat menginjakkan kaki di Muara Tembesi pada Bulan Maret 1901 (43 tahun kemudian).

Dari sisi ini dapat diketahui bahwa pihak kerajaan Jambi sudah memahami bagaimana tehnik berperang era abad ke-20, dimana ketika musuh bergerak dengan Kecepatan dan kekuatan penuh menuju satu front, yang dapat dilakukan adalah mundur sambil menggiring musuh masuk jauh kedalam wilayah dengan harapan akan memperpanjang jarak musuh dari garis logistiknya. dalam keadaan terisolasi, musuh sangat gampang di counter-offensif dan membiarkan titik-titik terkuat (strong points) mereka kehilangan arti. Pola ini persis dengan cara Rusia mematahkan Napoleon, atau saat Stalin memukul Hitler justru ketika divisi panzer Guderian tinggal berjarak 40 mil dari Moscow, dan Mac Arthur memby-pass Jepang dari gudang logistiknya di Indonesia dengan langsung menyerang Filipina dan Saipan  hingga Okinawa.

kembali ke pembahasan agresi Belanda menuju Kerajaan Jambi,  2 hari sejak Marinir VOC mendarat di Kumpeh, Pertempuran berat tapi singkat (dua hari dua malam) terjadi, Belanda dengan kekuatan penuhnya dapat menduduki Jambi. Istana Sultan yang terletak di Tanah Pilih (sekarang disekitar Masjid Agung Al-Falah) luluh lantak. Dipihak Belanda salah satu kapal perangnya “Houtman” tenggelam. Sultan Taha meninggalkan Tanah Pilih mundur ke Muara Tembesi akibat agresi Belanda. Di Muara Tembesi Sultan Taha menyusun perangkat pembantu utamanya:
1.    Mengangkat Pangeran Hadi sebagai panglima perang
2.    Mengangkat Pangeran Singo sebagai Kepala Pertahanan Sipil
3.    Mengangkat Pangeran Lamong sebagai Kepala Urusan Keuangan.

Begitu Jambi (Tanah Pilih) diduduki Belanda, Sultan Taha menjadikan Tanah Garo (kini wilayah Tabir Tengah, Kecamatan Tebo Ilir) sebagai pusat pemerintahannya. Di Tanah Garo ini sekitar tahun 1960-an masih didapati bekas-bekas istana, kolam-kolam tempat merendam getah balam, getah sundik, dan getah jelutung. Komoditi inilah yang digunakan untuk membeli persenjataan dan amunisi. Sedangkan Sultan Taha lebih terfokus di Muara Tembesi di Front terdepan menghadapi Belanda.

Dari Muara Tembesi tentara Kerajaan Mundur lagi ke Muara Ketalo (teluk Kapur). Di Front ini terjadi lagi perundingan pada tahun 1894 antara Pangeran Ratu Martaningrat dengan wakil Belanda Ruud van Oldenbarneveldt. Perundingan ini juga dihadiri Sultan Taha dan Pangeran Diponegoro. Perundingan ini gagal total.

Pada Tanggal 6 Juli 1895 terjadi sabotase, rakyat dapat merampas persenjataan Belanda di Jambi. Komandan dan wakil politik Belanda terluka parah pada malam itu. Pada Tahun 1898 terjadi pertempuran di Tanjung Gagak, Singkut, dengan korban kedua belah pihak yang cukup besar.

Didorong rasa frustrasi mematahkan perlawanan tak berkesudahan dari Sultan Taha, yang meski telah berusia lanjut tapi posisinya sangat Mobil (selalu berpindah tempat) dan dikelilingi tentara yang fanatik, Belanda akhirnya mendatangkan Satuan Tempur yang terkenal biadab dan tangguh di segala medan, Korps Komando Elit Anti-Gerilya Koninklijke Marechaussée (Marsose) yang berpangkalan di Aceh untuk mendukung front Jambi.  Terjadilah pertumpahan darah brutal, dan pertempuran menjadi sangat mahal bagi Belanda dengan korban yang mengerikan  disepanjang Sungai Batanghari.

Sultan Taha bersama Temenggung Mangkunegara membentuk Laskar Sabilillah, yang mendapat latihan istimewa dari pelatih yang didatangkan dari Aceh. Sultan kharismatik itu juga memerintahkan kepada penduduk sipil, agar tiap rumah dipersenjatai dengan selaras bedil, dan menyimpan logistik untuk keperluan perang. Penduduk Sipil juga diperintahkan membuat benteng dan parit-parit pertahanan didaerah strategis seperti di Tanjung, Limbur Merangin, Pelayangan, Limbur Tembesi, Sungai Manau, Sungai Alai dan Muara Siau dan melakukan sabotase, bila ada kesempatan langsung menyerang tanpa menunggu komando.

Sultan Taha membagi Front perjuangannya menjadi:

  1. Front Pertama dari Muara Tembesi sepanjang Sungai Batanghari sampai ke Tanjung Samalidu (Sumbar), dipimpin langsung Sultan Taha. Sebagai asistennya diangkat Pangeran Diponegoro.
  2. Front Kedua dari Muara Tembesi sampai Sarolangun, Bangko, Kerinci dibawah Temenggung Mangku Negara. Asistennya diangkatlah Panglima Pangeran Haji Umar bin Pangeran Haji Yasir dan Depati Parbo.
  3. Front Ketiga dari Muara Tembesi ke hilir, Kumpeh, Muara Sabak dan Tungkal dipimpin Raden Mattaher, yang dibantu oleh Panglima Raden Pamuk dan Panglima Raden Perang.

Sebelum melakukan Operasi Militer Massif menuju Muara Tembesi, Belanda mengirim G.W. Beeger, Kepala Staf Angkatan Perangnya ke Jambi untuk mengumpulkan segala informasi untuk bekal operasi. Dan pada bulan Maret 1901 operasi militer dilaksanakan dan berhasil menguasai Muara Tembesi, tepatnya 43 tahun setelah pendudukan kota Jambi oleh Belanda.

Namun resistensi belum berakhir, sebagaimana dituturkan Belanda dalam terjemahan buku De Pioniers der Beschaving Nederlands Indie:
Pada bulan Mei 1901 kedudukan Belanda di Sarolangun Rawas diserang oleh pasukan Jambi dari Ulu Tembesi dan Batang Asa, dimana mereka ini akhirnya dipukul mundur. Kapal-kapal perang yang bergerak ke uluan disambut dengan tembakan-tembakan. Untuk menambah kekuatan, pemerintah mengirim lagi Batalyon tempur kedua dengan senjata berat dari Batavia ke Palembang, terus ke Rawas menerobos ke daerah Jambi. September 1901 menyerbu dan langsung menduduki sarolangun. Mulai Oktober 1901 daerah ini dijadikan basis patroli selama 3 tahun sampai 1903.

Pada bulan September 1903 Sultan Taha mengadakan pertemuan dengan Sisingamangaraja (dari Tapanuli-Sumut) di Sungi Limau dan keduanya berikrar tidak akan pernah menyerah kepada Belanda, sepahit apapun konsekuensinya.

Strategi militer yang dilancarkan Belanda tampaknya telah menguras banyak sumberdaya militer untuk setiap jengkal wilayah yang didudukinya. Sehingga penasehat pemerintah Hindia Belanda Dr. Snouck Hurgronje mengadakan riset dan observasi mendalam guna menyusun skenario menundukkan Jambi.

Seyogyanya dalam konflik disatu sisi ada protagonis dan disisi lain ada kecenderungan subversi. Terhadap pihak desertir Sultan, Belanda melakukan persuasi untuk menarik satu-persatu pengikut Sultan Taha.  Dari mereka inilah Belanda menyadap informasi berharga tentang peta kekuatan pasukan Sultan Taha. Strategi klasik ini mematikan dan berhasil memecah integrity pasukan Sultan Taha.

Dalam Buku de onderwerping van Jambi 1901-1907 yang dipetik dari Indisce Militaire Tijdsrift pada ekstra biljage no.24 oleh Kapitein Infantrie GJ Velds, diterjemahkan sebagai berikut:
Tanggal 23 April 1904, berangkat satu pasukan infantry dibawah komando Letnan G. Badings dengan 2 hari perjalanan sepanjang mudik sungai Tabir menuju Bangko Pintas. Dari sana melalui jalan-jalans setapak (voetpad) menuju desa Betung Bedarah, karena sudah diketahui letaknya areal dimana Sultan berada. Dari Betung Bedarah ke arah selatan hingga tanggal 25 April 1904 melakukan pengepungan dan penghadangan. Pada hari itu, diberangkatkan lagi satu pasukan infantry dari dusun Penapalan, satu pasukan dari Dusun Remaji dan satu pasukan dari Dusun Muara Sungai Api. Semua serentak maju dengan pasukan yang dipimpin Lt. G. Badings yang berangkat dari Dusun Betung Bedarah menuju sasaran yang telah ditentukan bersama. Setelah berjalan sehari penuh, baru dapat ditemukan jejak-jejak yang diduga menuju tempat Sultan berada. Namun atas kesungguhan seorang polisi inlander dengan menyamar, maka pada tanggal 26 malam 27 April 1904 sampai ketempat dimana Sultan Taha berada. Mereka (Sultan Taha) dikepung dan diserbu dari dua jurusan, maka terjadilah tembak menembak dengan penduduk. Tiga diantara pasukan Jambi yang gugur, terdapat Sultan Taha Saifuddin.

Jenazah Sultan Taha keesokan harinya dibawa ke Dusun Betung Bedarah oleh Belanda untuk dipersaksikan kepada rakyat disana dan seterusnya dibawa ke Muara Tebo dan dimakamkan disana dalam areal benteng Belanda. Berakhir sudah satu petualangan heroik seorang Pejuang yang tanpa ampun menghajar Belanda.

Advertisements

8 responses to “Warlock of Jambi

  1. interesting post 🙂
    mengingatkan ai pada sejarah jaman smp 😉

  2. Walaupun kejadiannya sudah bertahun2 silam, namun membaca saat2 penagkapannya masih berasa haru yaa.. rasanya kesal pengen nyalahin para pembelot itu…..Kebayang saat dikepung dan tertembak… masih brasa aroma kesedihan saat itu yaa…Yang tak terlupakan jiwa patriot, bewibawa tentunya dan satu lagi, ahli strategi, walaupun pda akhirnya ketangkep……..

  3. oh sebenarnya Sultan Taha tidak tertangkap, dia gugur secara gentleman dlam pertempuran, bayangkan aj, 4 batalyon dikirim untuk memburu seorang kakek2 yang telah berumur 83 tahun, tentu bukan orang sembarangan, karena selama 43 tahun Belanda tak pernah berhasil menjebaknya dalam perundingan. sebenarnya Belanda tidak kuatir dengan skala kekuatan militer sultan, tapi mereka takut akan pengaruh kharisma sultan yang begitu dalam di kalangan sipil, sehingga Belanda harus melenyapkan sultan dengan segala cara. thanks 4 your interest in my article…Salam Kenal yaa..

  4. pertama x x… 😆
    Thx dah mampir dan kasih comment di blog Q…
    Salam kenal yuph… 😉

  5. pertamax!

    wiiih…hebat ya sultan thaha

  6. wah akhirnya bisa baca sejarah Jambi lagi, terakhir baca sih d perpus SMA dari buku tua, ga’ banyak lo yang tau sejarah Jambi… pengetahuan seperti ini ga’ dmasukin dalam kurikulum sih…

    untuk sebuah kemerdekaan butuh pengorbanan besar, kewajiban qt smua generasi muda meneruskan perjuangannya…

  7. jambie emang oye

  8. kalau ada yang mengetahui siapa nama penasihat sultan taha II tolong kirim ke alamat e-mail ini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s