Mereka yang pesimis tidak pernah memenangkan pertempuran apa pun

Krisis global yang melanda akibat pembelanjaan amerika besar pasak dari pada tiang, banyak perusahaan besar sekaliber Google, Yahoo, Nokia, AT&T, AIG hingga Sony tak kuasa diterjang badai PHK, sehingga harus merumahkan ribuan karyawannya. Begitu pula dengan Ford, General Motors dan Chrysler yang angkat tangan dan menyerahkan masalah ini pada pemerintah Amerika. Indonesia disebut-sebut bakal tersapu badai ini, tapi tunggu dulu, siapa yang seharusnya cemas dengan kondisi ini?

anak jalanan

anak jalanan


Menurut kutipan http://www.netsains.com, Siapa paling menderita jika krisis ekonomi mendera? Kalau versi Presiden Bank Dunia, Robert Zoellick, krisis ekonomi global dapat sangat merugikan penduduk miskin di negara-negara berkembang. Bank Dunia menaksir harga pangan dan energi yang tinggi telah mendorong 100 juta orang lagi ke lembah kemiskinan tahun ini saja. Agaknya Zoellick tak pernah turun ke lapangan seperti rakyat jelata Indonesia, negara yang katanya berkembang tapi kerap disandingkan dengan sejumlah negara miskin Afrika dalam sejumlah literatur. Sebab nyatanya, orang miskin itu tak kena dampak apapun atas krisis ekonomi global. Siapa rakyat miskin yang dimaksud? Mereka adalah gelandangan, pengemis, pengamen, anak jalanan, yang tak punya tempat tinggal, tak sekolah, dan entah bagaimana masa depannya.

Adakah artinya nilai rupiah anjlok atau bahkan terjadi devaluasi sekalipun bagi mereka? Apakah jika dolar turun maka mereka akan bisa kuliah dan berbelanja di butik mahal? Apakah jika rupiah anjlok, mereka akan mati bunuh diri? Tidak. Bagi kalangan orang seperti mereka, krisis atau tidak krisis sama sekali tak ada artinya.

Justru yang kena dampak paling heboh dalam situasi krisis adalah kalangan menengah. Kalangan yang dibilang kaya tapi masih naik turun bis kota dan tersiksa macet, terancam copet dan penodong. Tapi tak bisa disebut miskin, sebab mereka bisa mengecap pendidikan tinggi, memiliki laptop dan ponsel, sesekali menikmati Starbucks. Ini yang disebut sebagai kalangan “nanggung”.

Sektor mana yang akan terancam? sudah tentu sektor perbankan/keuangan/pasar modal, tapi sektor yang tidak pernah berhubungan atau selama ini dipandang sebelah mata oleh mereka, diragukan akan terkena imbasnya. Mereka yang tidak punya segmentasi pasar bagi kalangan menengah keatas seperti mayoritas UKM akan menunjukkan keperkasaannya sekali lagi di tahun 2009. Krisis moneter 1997 adalah bukti bahwa segelintir perusahaan besar yang bangkrut bisa menyeret satu negara kedalam krisis, namun sebaliknya, UKM dengan tabah terus memutar roda nasibnya.

Justru bayangan krisis ini harus disyukuri oleh kalangan menengah kebawah, mereka yang selama ini hidup dalam efisiensi, bukan dalam gengsi dan prestise. Paling-paling mereka akan lebih ketat mengawasi lembar kanan neracanya, bukannya panik atau lebih parah masuk rumah sakit jiwa. Bagi kalangan menengah kebawah, musuh yang harus dihadapi bukanlah krisis global, tapi diri sendiri, bagaimana mereka mengenali dan menangkis peluru yang bisa menenggelamkan kapal keuangan mereka diperairan keruh pasar.

Manusia dirancang sedemikian rupa sehingga mereka sanggup menahan beban kehidupan seberat apapun, yang sering membuat mereka terpeleset justru saat mereka mendapat harta berlimpah atau kekuasaan, sesuatu yang hampir absurd bagi kalangan menengah kebawah. Jadi anjuran waspada bagi kaum miskin di Indonesia adalah untuk mencermati lagi lembar neraca mereka, biarkan mereka yang kaya mengurusi investasinya yang tercebur dalam jeram ekonomi global.

Advertisements

8 responses to “Mereka yang pesimis tidak pernah memenangkan pertempuran apa pun

  1. Selain itu, BANGSA KITA saat ini SEDANG DIHINA… (klik link saya untuk melihat hinaan oleh Malaysia dan Singapura kepada bangsa kita)

  2. Salam Kenal…Keep Fight..!

  3. yuuupz bagus nget blog na

  4. Semangat dan Optimis…..

  5. Jadikan Indonesia Bangsa yang Bisa Menghina jangan bangsa yang selalu dihina… (Tapi Positif loh)

  6. antara pesimis dan optimis kadang batasnya sangat tipis yaahhh; jujur saja, pesimisme justeru kadang muncul pada saat optimisme memuncak 🙂

  7. Selalu ada hikmah dibalik bencana…

  8. kasihan yo orang miskin, (bang iman tukaran link yuk)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s